Pada sebuah kereta…
Tuesday, January 31st, 2006kejadian ini telah lama sekali terjadi, namun terasa masih segar di ingatanku.
kejadian menggelitik yang kualami ini sebenarnya sudah sangat lama terjadi, sekitar tiga
atau empat bulan yang lalu. waktu itu saya pulang dari suatu kepentingan di jakarta kembali
ke buitenzorg, bogor. seperti biasa, angkutan yang kupilih adalah KRL, walau penampilannya
amburadul, namun tarifnya relatif "sangat terjangkau" untuk kantong-mahasiswsaya, jadi kalau
kita menyebut tarif, atau harga dan diikuti dengan kata mahasiswa, logisnya tarif atau
hargaa itu JELAS sangat murah meriah.
nah, dalam kereta listrik "tarif mahasiswa" ini saya
mengalami kejadian yang sangat menggelitik dan membuatku sejenak mengernyitkan dahi untuk
sedikit memberikan waktu kepada otakku yang cuman satu dan dodol ini berfikir, memahami
kejadian tersebut.
cerita ini diawali dengan "kebiasaan" petugas kereta mengecek karcis yang dibawa oleh
"sebagian kecil" penumpang KRL, lalu tibalah bapak tersebut meminta karcis kepada seorang
abang2 yang kelihatannya masih cukup muda,
"karcis….",
"karcis….",
setelah dua kali mengulang kata yang sama bapak "tukang karcis" tadi tidak mendapat respon
yang diinginkannya, berupa sodoran karcis KRL, namun "seperti biasa" malah mendapat sodoran
uang kertas 1000 rupiah. jumlah yang jauh lebih sedikit dari yang seharusnya dibayar abang2
tadi di loket. walau sudah bayar di bawah standard harga karcis krl, yang harga standard
tesebut masih dijauh standard harga pelayanan KRL, masih sempat2nya abang2 tadi berkomentar:
"kemarin saya beli karcis ndak diperiksa…"
"giliran ndak beli karcis eh.. malah diperiksa, gimana sih bapak ini!?"
sekarang tolong perhatikan komentar abang2 tersebut diatas, ada ketika abang2 tadi
mengucapkan alasan dibalik pembelian karcis itu seharusanya ada yang namanya "pelayanan"
atau "jasa" yang diperoleh abang2 tadi dengan menumpang KRL, yang saya rasa jauuuhhhh..
lebih tinggi nilainya dibanding dengan nilai karcis yang telah dibayarkannya kepada bapak2
"tukang karcis" tadi. saya heran darimana pemikiran abang2 ini sehingga muncul konklusi
kalau membeli karcis KRL untuk diperiksa dan dinyatakan "tidak bersalah" oleh bapak2 "tukang
karcis", bukannya untuk "membeli" pelayanan angkutan KRL? beginikah seorang warga negara
atau seorang konsumen indonesia memandang kewajibannya?
inti dari cerita ini adalah: mengungkap definisi seorang warga negara indonesia akan
kewajiban dan kepeduliannnya dengan fasilitas umum. memang cerita ini hanya menyangkut
seseorang, namun yang selalu menjadi perhatianku, jika ini terjadi pada seseorang dalam
suatu komunitas yang relatif homogen, maka hal yang sama ada kemungkinan terjadi pada orang
lain dalam komunitas tersebut, nah.. jika ini terjadi pada banyak sekali warga negara
indonesia, saya mau bertanya, akan jadi apa bangsa ini?? bangsa yang jarang menghargai
sesuatu sepantasnya?? jika kewajiban yang kecil dan remeh ini dilupakan begitu saja,
bagaimana dengan kewajibannya yang lebih besar? kewajiban terhadap penciptaNya?